Malam Nisfu Sya’ban merupakan salah satu malam mulia dalam Islam yang penuh rahmat dan ampunan, sehingga sangat dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar sebagai bentuk persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Berikut ini, khutbah Jumat tentang 3 amalan malam nisfu Sya’ban.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan inilah bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan dunia sekaligus bekal utama menuju akhirat kelak.
Di antara bulan-bulan yang memiliki keistimewaan adalah bulan Sya’ban. Bulan ini menjadi jembatan menuju bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar bulan Sya’ban diisi dengan berbagai amalan kebaikan, seperti puasa sunah, istighfar, doa, dan memperbanyak amal saleh sebagai persiapan menyambut Ramadhan.
Salah satu malam yang paling utama di bulan Sya’ban adalah malam Nisfu Sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan. Pada malam tersebut, Allah Swt membuka pintu ampunan-Nya seluas-luasnya bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Baihaqi dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda:
«إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مُسْتَغْفِرٌ فَأَغْفِرَ لَهُ؟ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ؟ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ؟ أَلَا سَائِلٌ فَأُعْطِيَهُ؟ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ»
Artinya: “Apabila datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka bangunlah kalian untuk beribadah pada malamnya dan berpuasalah pada siangnya. Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia sejak terbenam matahari, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang memohon ampun, maka Aku ampuni? Adakah orang yang meminta rezeki, maka Aku beri rezeki? Adakah orang yang tertimpa cobaan, maka Aku beri keselamatan? Adakah orang yang meminta, maka Aku kabulkan?’ hingga terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hadis ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sendiri yang memanggil hamba-Nya untuk datang memohon, datang bertobat, dan datang berharap kepada-Nya. Maka sungguh merugilah orang yang melewatkan malam ini tanpa memperbanyak doa dan istighfar, padahal pintu ampunan sedang dibuka lebar.
Selain dianjurkan memperbanyak doa, umat Islam juga dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat sunah. Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh al-Baihaqi dari Sayyidah Aisyah, diceritakan bagaimana Rasulullah menghidupkan malam tersebut dengan ibadah yang sangat khusyuk dan panjang:
عن عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم مِنَ الَّليْلِ يُصَلِّيْ فَأَطَالَ السُّجُوْدَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهاَمَهُ فَتَحَرَّكَ، فَرَجَعْتُ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ، وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالَ: ” يَا عاَئِشَةَ أَوْ يَا حُمَيْرَاءَ ظَنَنْتَ أَنَّ النَّبِيَّ خَاسَ بِكَ؟ “، قُلْتُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّيْ ظَنَنْتُ أَنَّكَ قُبِضْتَ لِطُوْلِ سُجُوْدِكَ، فَقَالَ: ” أَتَدْرِيْنَ أَيُّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ “، قُلْتُ: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ” هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ، وَيَرْحَمُ اْلمُسْتَرْحِمِيْنَ، وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ اْلحِقْدِ كَمَا هُمْ “.
Artinya: “Ini adalah malam pertengahan Sya’ban. Sesungguhnya Allah melihat hamba-hamba-Nya pada malam ini, lalu Dia mengampuni orang-orang yang memohon ampun, merahmati orang-orang yang memohon rahmat, dan menangguhkan (ampunan) bagi orang-orang yang menyimpan kedengkian.”
(HR. al-Baihaqi)
Jamaah rahimakumullah,
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa ampunan Allah bukan hanya ditentukan oleh banyaknya ibadah, tetapi juga oleh kebersihan hati. Orang yang rajin shalat, rajin berdoa, namun masih menyimpan dendam, kebencian, dan permusuhan terhadap sesama, maka terhalang dari turunnya ampunan Allah.
Oleh karena itu, menjelang Nisfu Sya’ban dan Ramadhan, hendaknya kita saling memaafkan, membersihkan hati, dan memperbaiki hubungan sosial agar ibadah kita diterima oleh Allah Swt.
Selain shalat dan doa, sebagian ulama juga menganjurkan membaca Surah Yasin pada malam Nisfu Sya’ban. Dalam kitab Al-Mujarrabāt, al-‘Allamah ad-Dairabi menyebutkan kebiasaan membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeda, sebagai bentuk ijtihad para ulama dalam menghidupkan malam tersebut:
وَمِنْ خَوَاصِّ سُورَةِ يَس أَنْ تُقْرَأَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ: الْأُولَى بِنِيَّةِ طُولِ الْعُمُرِ، وَالثَّانِيَةِ بِنِيَّةِ دَفْعِ الْبَلَاءِ، وَالثَّالِثَةِ بِنِيَّةِ الِاسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ
Artinya: “Di antara keutamaan Surah Yasin adalah dibaca pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak tiga kali: pertama dengan niat panjang umur dalam ketaatan, kedua dengan niat dijauhkan dari bala, dan ketiga dengan niat agar tidak bergantung kepada manusia.”
Para ulama menegaskan bahwa amalan ini merupakan hasil ijtihad dan tidak bertentangan dengan syariat, selama diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan tidak diyakini sebagai kewajiban yang mengikat.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dari seluruh penjelasan ini, kita memahami bahwa malam Nisfu Sya’ban adalah momentum yang sangat berharga. Ia bukan sekadar tradisi, tetapi kesempatan emas untuk kembali kepada Allah, memperbaiki diri, menghapus dosa, dan menyiapkan hati menyambut bulan Ramadhan. Jangan sampai kita sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan kesempatan besar ini.
Marilah kita jadikan bulan Sya’ban sebagai bulan persiapan ruhani menuju Ramadhan. Jangan sampai kita memasuki Ramadhan dalam keadaan hati yang kotor, penuh dendam, dan jauh dari taubat. Sebaliknya, marilah kita masuk Ramadhan dengan hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan semangat ibadah yang tinggi.
Perbanyaklah istighfar, karena istighfar adalah kunci ampunan, kunci rezeki, dan kunci kelapangan hidup. Sebagaimana sabda Rasulullah:
مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barangsiapa yang membiasakan istighfar, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesusahan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Jamaah rahimakumullah,
Marilah kita menutup khutbah ini dengan memperbanyak doa kepada Allah Swt, semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diampuni, dirahmati, dan diberi keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: (وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ رَبَّنَا اغْفِرْ وََارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ.